Pernahkah kamu merasa bersalah karena menikmati tubuhmu sendiri? Atau bertanya-tanya, mengapa kenikmatan seksual yang dilakukan sendirian justru sering diselimuti rasa malu dan stigma?
Pertanyaan-pertanyaan ini tak jarang menggema di ruang batin banyak perempuan masa kini, meski kita hidup dalam zaman yang lebih terbuka secara seksual. Namun untuk memahami akar rasa bersalah itu, kita perlu menengok sejarah—sejarah yang menempatkan masturbasi perempuan sebagai tindakan memalukan, bahkan membahayakan kesehatan.
Rachel P. Maines dalam The Technology of Orgasm menyingkapkan betapa kuatnya stigma tersebut. Ia menulis, “Nearly all female disorders could be attributed to masturbation or related sins, such as drinking alcohol, tea, or coffee, thinking about sex, or ‘tight corsets worn while reading French novels.’”. Di sini, masturbasi tidak hanya dianggap tidak bermoral, tapi juga dikaitkan langsung dengan berbagai penyakit yang diderita perempuan—seakan tubuh perempuan akan rusak karena menikmati kenikmatan yang tidak disahkan oleh sistem patriarki.
Pandangan ini bukan hanya persoalan medis, tetapi ideologis. Perempuan yang bisa memuaskan dirinya sendiri dianggap ancaman terhadap tatanan seksual yang didasarkan pada kebergantungan perempuan pada pria. Jika perempuan bisa mengalami orgasme tanpa penetrasi, lalu di mana letak kekuasaan maskulin yang selama ini bertumpu pada mitos kehebatan penis?
Masturbasi juga dicurigai sebagai pintu gerbang menuju ketidakpatuhan sosial. Seorang perempuan yang mengenal tubuh dan hasratnya sendiri dianggap lebih mungkin memberontak terhadap aturan, memilih pasangan berdasarkan keinginan bukan kewajiban, dan menolak bentuk-bentuk hubungan yang tidak memberinya kebahagiaan. Maka, bukan hanya masturbasi yang diserang, tetapi semua hal yang merangsang imajinasi perempuan—dari teh, kopi, hingga novel Prancis.
Ironisnya, dalam sejarah medis, kenikmatan yang didapat melalui “terapi” dari dokter laki-laki justru dibolehkan dan dianggap menyembuhkan. Masturbasi oleh tangan sendiri disebut “merusak,” sementara oleh tangan dokter disebut “pengobatan”. Standar ganda ini menunjukkan bahwa yang dipermasalahkan bukanlah kenikmatannya, melainkan kontrol atas kenikmatan itu.
Hari ini, ketika kita masih melihat perempuan merasa perlu “alasan medis” untuk membeli vibrator atau takut disebut “tidak wajar” karena tidak butuh pasangan untuk orgasme, kita harus sadar: jejak sejarah masih menghantui tubuh kita.
Maka, mari bertanya ulang: jika tubuh ini milik kita, mengapa kita harus meminta izin untuk menikmatinya?
Luangkan waktu untuk mendengar bisikan tubuhmu sendiri—bukan untuk menghakimi, tapi untuk merayakannya. Sudah saatnya kenikmatan tidak lagi dimonopoli oleh rasa bersalah yang diwariskan sejarah.