Pernahkah kamu merasa bersalah karena menikmati kenikmatan tubuhmu sendiri? Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa kepuasan seksual perempuan sering kali dianggap tabu, atau bahkan “bermasalah”? Pertanyaan ini, walau terdengar personal, sesungguhnya menyimpan akar sejarah panjang yang telah membentuk bagaimana tubuh perempuan dinilai dan dikendalikan oleh sistem sosial dan medis.
Dalam sejarah kedokteran Barat, orgasme perempuan pernah — dan dalam beberapa kasus masih — tidak dianggap sebagai bentuk kenikmatan yang sah. Sebaliknya, ia dimasukkan ke dalam kerangka gangguan: histeria. Rachel P. Maines, dalam bukunya The Technology of Orgasm, menyatakan bahwa orgasme yang dicapai melalui pijatan genital dalam praktik medis disebut dengan istilah “hysterical paroxysm,” suatu “krisis” yang dianggap sebagai bagian dari penyembuhan, bukan ekspresi seksual: “The hysterical paroxysm was, in fact, female orgasm, but the therapeutic context rendered it nonsexual.” (hlm. 4)
Dalam sistem medis tersebut, tubuh perempuan dijinakkan dan dikendalikan. Ketika perempuan mengalami gejala seperti kecemasan, insomnia, atau “erotic fantasy,” diagnosis yang umum adalah histeria. Solusinya? Terapi melalui pijatan genital yang secara sistematis menghasilkan orgasme — namun dengan pembingkaian bahwa ini adalah pengobatan, bukan kenikmatan. Ini menempatkan orgasme perempuan bukan sebagai hak atau kebutuhan, tetapi sebagai gejala penyakit.
Bayangkan betapa subversifnya kenikmatan perempuan dianggap pada masa itu. Orgasme harus diproses dalam ruang klinis, dengan dokter (selalu laki-laki) sebagai perantara dan pengendali, serta disterilkan dari makna erotik. Kenikmatan tubuh perempuan bukan hanya diabaikan, melainkan dikelola dan didefinisikan ulang dalam bingkai patriarkal medis: ketika orgasme muncul, ia bukan tanda kepuasan, tapi tanda penyakit.
Akibatnya, perempuan kehilangan otoritas atas tubuhnya. Bahkan kenikmatan yang paling pribadi pun tidak diakui sebagai milik mereka. Mereka tidak dianggap memiliki hasrat seksual yang sehat, apalagi keinginan. Jika muncul, itu pun harus “diperbaiki” oleh tangan otoritatif dokter. Maka jangan heran jika hingga kini banyak perempuan masih berjuang untuk mengklaim keabsahan kenikmatan mereka sendiri, dan sering kali merasa bersalah karena menginginkannya.
Kini, ketika perempuan mulai menyuarakan kembali otonomi atas tubuh dan seksualitasnya, penting untuk melihat bagaimana sejarah memperlakukan orgasme sebagai masalah. Refleksi ini bukan hanya sejarah medis — ini adalah sejarah penghapusan kenikmatan perempuan, yang diam-diam masih hidup di antara kita.
Kamu punya hak atas kenikmatan tubuhmu sendiri. Tinjau ulang kepercayaan yang kamu warisi tentang seksualitasmu — apakah itu benar-benar milikmu, atau warisan sejarah yang perlu kamu lepaskan?