Ada satu hal yang bikin darah perempuan mendidih sampai ke ubun-ubun: diperlakukan seolah otaknya cuma hiasan kepala. Iya, tahu kan? Tatapan penuh “kasih” tapi di dalamnya terselip pesan, “Duh, kamu pasti nggak ngerti deh…” — yang rasanya seperti dilempar sandal jepit ke hati. Ini bukan sekadar bikin kesal, tapi seperti ada tim kecil yang sengaja menambal stereotip gender biar makin tebal, dan percaya deh, nggak ada perempuan yang mau masuk ke film horor semacam itu.
Sheryl Sandberg, si bos besar di dunia kerja dan penulis buku Lean In, pernah bilang, “When we sit at the table, we are telling ourselves and others that we belong and are legitimate. When we step back, we are telling ourselves and others that we don’t belong.” Kalau diterjemahkan bebas, artinya: begitu perempuan ikut nimbrung dan ngomong di meja rapat, dia lagi pasang bendera, “Halo, ini tempat gue juga!” Tapi kalau malah didorong mundur, ya kesannya, “Yaudah deh, minggir aja, ini bukan level kamu.” Dan itu, teman-teman, rasanya seperti disuruh makan salad waktu lagi ngidam bakso—nggak nyambung dan bikin kesel.
Masalahnya, perlakuan “anggap-nggak-tahu-apa-apa” ini sering terjadi bukan cuma di kantor, tapi juga di rumah, tongkrongan, bahkan di warung pecel lele. Efeknya? Rasa percaya diri bisa rontok, kayak sinyal Wi-Fi yang tiba-tiba hilang pas lagi Zoom meeting. Parahnya lagi, yang melakukan kadang nggak sadar—karena pola pikir ini udah nyelip di budaya kita sejak zaman dinosaurus (oke, mungkin nggak selama itu, tapi cukup lama untuk bikin repot).
Kalau udah begitu, perempuan akhirnya harus jungkir balik untuk membuktikan kalau mereka bukan cuma penonton di panggung hidupnya sendiri. Dan ini capek, lho. Bayangin aja, harus pintar, harus sabar, harus humoris, tapi juga harus terus melawan pandangan meremehkan. Rasanya seperti main game level hard sambil baterai HP tinggal 5%.
Nah, supaya dunia nggak terus-terusan jadi arena “Siapa Paling Meremehkan”, ada beberapa trik yang bisa dipakai. Pertama, latihan komunikasi tanpa drama. Artinya, di meja kerja atau meja makan, semua suara—mau suara sopan atau suara nyaring kayak toa masjid—tetap harus didengar dan dihargai tanpa embel-embel, “Ah, kamu kan cewek…” Kedua, bikin semua orang melek bias. Perempuan perlu ingat kalau kemampuan mereka nyata, dan yang lain perlu ingat kalau prasangka gender itu sudah kadaluarsa. Ketiga, dukung perempuan biar makin pede—entah lewat pendidikan, pelatihan, atau sekadar tepuk tangan waktu mereka berprestasi, bukan cuma waktu mereka masak enak.
Intinya, memperlakukan perempuan seolah-olah pikirannya kosong itu sama konyolnya dengan nyuruh kucing jaga akuarium. Nggak masuk akal dan bikin rusak suasana. Mengubah kebiasaan ini memang butuh kerja sama, tapi hasilnya jelas lebih manis dari teh tarik di pagi hari: lingkungan yang adil, sehat, dan bikin semua orang bisa berkembang tanpa merasa dibonsai.
Dan, hey, kalau mau mulai sekarang, gampang kok. Cukup cek diri sendiri: “Eh, gue udah bener-bener dengar belum, atau cuma pura-pura?” Jangan tunggu sampai ada yang ngelempar sendal ke kepala buat nyadar. Mulailah jadi bagian dari gerakan #StopMeremehkan—karena, serius, dunia ini lebih seru kalau kita semua bisa main di level yang sama, tanpa harus mikir siapa yang layak duduk di meja.
Kalau mau bukti, silakan coba satu minggu tanpa meremehkan perempuan. Siap-siap aja, kamu akan terkejut betapa banyak “plot twist” luar biasa yang selama ini kamu lewatkan. Dan percayalah, itu jauh lebih menyenangkan daripada pura-pura nggak tahu. [***]
