Oke, bayangkan begini: di dunia ini, masih ada yang percaya kalau perempuan itu makhluk lemah. Lemah? Serius? Ini abad berapa, Bung? Sementara perempuan bisa multitasking antara kerja, ngurus rumah, ngurus anak, dan masih sempat update status di medsos dengan caption estetik, ada saja yang masih menganggap mereka “rapuh” seperti gelas murah di warung. Padahal, kalau hati perempuan sudah teguh, mau Superman atau Thanos juga mikir dua kali buat debat.
Simone de Beauvoir, si filosof keren yang nulis The Second Sex, pernah nyeletuk tajam banget: “Humanity is male and man defines woman not in herself but as relative to him.” Bahasa gampangnya, “Bagi sebagian orang, kemanusiaan itu laki-laki, dan perempuan cuma dianggap eksis kalau ada hubungannya sama laki-laki.” Nah lho. Jadi, bukan karena perempuan itu beneran lemah, tapi karena kebiasaan masyarakat yang hobi pasang label seenaknya. Kayak stiker di laptop yang ditempel pas lagi ngantuk—nggak mikir dulu, pokoknya nempel.
Masalahnya, label “lemah” ini sering bikin perempuan nggak dikasih kesempatan buat unjuk gigi—baik itu gigi taring waktu marah, atau kekuatan mental dan emosional yang sebenarnya bisa bikin orang lain minder. Kekuatan perempuan itu bukan cuma soal angkat galon sendirian, tapi juga tahan banting di tengah drama hidup yang kadang plot twist-nya lebih liar daripada sinetron jam prime time.
Makanya, ada trik khusus biar stigma ini bisa ditendang keluar lapangan. Pertama, kenali kekuatan diri sendiri. Jangan cuma ingat kelemahan kayak “aku nggak jago masak” atau “aku nggak bisa matematika”—lah, kekuatan mental, empati, kreativitas, itu semua power yang nggak kalah keren dari six-pack. Kedua, punya geng yang support. Lingkungan yang sehat itu kayak skincare mahal: bikin glowing dari dalam. Teman yang baik akan nyemangatin, bukan nyinyirin. Ketiga, terus isi kepala dengan ilmu. Pengetahuan itu kayak senjata laser di game—nggak cuma bikin kamu kuat, tapi bikin kamu bisa menghindar dari jebakan pemikiran kuno.
Kesimpulannya? Anggapan bahwa perempuan itu makhluk lemah itu cuma omong kosong yang diwariskan turun-temurun kayak resep masakan, tapi bedanya yang ini nggak ada enak-enaknya. Kekuatan perempuan ada di kemampuan mereka untuk bertahan, adaptasi, dan berkembang, bahkan ketika dunia lagi sibuk kasih rintangan. Dan hey, melawan stigma ini bukan cuma urusan perempuan—cowok juga harus ikutan. Karena kalau dunia ini mau adil, semua orang harus berhenti menilai pakai kacamata patriarki yang lensa-nya udah buram.
Jadi, untuk semua perempuan di luar sana, jangan biarkan ada yang mendefinisikan kamu pakai standar yang udah expired. Nggak usah sibuk nyamain diri sama laki-laki—kamu kuat bukan karena meniru, tapi karena jadi dirimu sendiri. Kalau ada yang bilang kamu lemah, senyumin aja sambil bilang, “Lemah? Nih, aku kuat banget… kuat nahan sabar sama ocehan kamu.”
Intinya, dunia butuh kekuatan perempuan, bukan versi copy-paste dari laki-laki, tapi kekuatan yang lahir dari hati, otak, dan nyali perempuan itu sendiri. Jadi ayo, gas terus. Perubahan itu nggak datang dari teriakan doang, tapi dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Dan kalau ada yang masih nyebut perempuan itu lemah, biarin aja—mungkin dia belum siap mental lihat kenyataan bahwa kekuatan perempuan itu real, dan sering kali, justru bikin dunia ini tetap waras.[**]
