Apakah tubuhmu merindukan pelukan, tapi jiwamu justru dipaksa diam dalam “kesucian”? Dalam dunia yang sering memuja pasangan sebagai jalan satu-satunya menuju validasi seksual dan emosional, perempuan lajang, janda, dan biarawati masih sering diposisikan dalam kebingungan: di satu sisi dianggap suci dan mandiri, di sisi lain justru menjadi sasaran diagnosis medis seperti histeria hanya karena tubuhnya menunjukkan hasrat yang wajar.
Pokok persoalan ini bukan hanya sejarah. Ia adalah refleksi panjang dari bagaimana tubuh perempuan dikontrol dan didefinisikan oleh institusi—baik agama, budaya, maupun medis. Dalam The Technology of Orgasm karya Rachel P. Maines, sejarah mencatat betapa “perempuan tanpa suami” justru paling sering dijadikan objek terapi genital, seolah tubuh mereka menjadi ‘masalah’ karena tidak memiliki ‘penyaluran’ yang sah secara sosial.
Satu kutipan yang menguatkan ini menyatakan:
“It is less often recommended for very young women, public women, or married women, for whom it is a better remedy to engage in intercourse with their spouses.”
(Rachel P. Maines, The Technology of Orgasm)
(Jarang dianjurkan untuk wanita yang masih sangat muda, wanita pejabat publik, atau wanita yang sudah menikah, yang mana berhubungan badan dengan pasangannya merupakan solusi yang lebih baik..)
Kutipan ini menjelaskan bahwa perempuan menikah dianggap telah memiliki "akses" terhadap seks yang sah, sementara perempuan lajang, janda, dan biarawati yang tidak menikah justru dilihat sebagai ancaman medis karena “kekurangan” hubungan seksual. Tubuh mereka tidak dianggap mandiri, tapi abnormal. Solusinya? Terapi genital oleh dokter—praktik yang berlangsung dari zaman Yunani kuno hingga awal abad ke-20.
Dengan kata lain, histeria bukan penyakit. Ia adalah label patriarkal atas tubuh perempuan yang tidak mengikuti narasi dominan. Perempuan yang tidak tunduk dalam institusi pernikahan dianggap “belum selesai”, “terancam gila”, atau “butuh bantuan medis”—bukan karena mereka benar-benar sakit, tapi karena masyarakat tidak mampu memahami bahwa tubuh perempuan bisa mengalami hasrat tanpa harus melalui pria.
Refleksi ini sangat penting untuk hari ini. Kita masih melihat sisa-sisa warisan tersebut dalam bentuk label: “perempuan lajang itu pasti kesepian,” “janda pasti gatal,” atau “biarawati itu menahan diri.” Tak jarang, perempuan yang memilih sendiri di usia dewasa tetap diawasi dan disarankan untuk “segera menikah demi kesehatan jiwa dan raga.” Padahal, kebutuhan seksual perempuan bukan penyakit yang butuh “dokter pria sebagai penyelamat.” Ia adalah bagian dari kemanusiaan yang layak diakui dan dirayakan, bukan ditertawakan atau diobati secara diam-diam.
Rachel Maines menunjukkan betapa teknologi seperti vibrator awalnya justru digunakan untuk menyembuhkan ‘penyakit perempuan’ ini, sebelum akhirnya menjadi alat pemberdayaan ketika perempuan mulai membelinya sendiri. Dengan itu, perempuan mengambil alih kendali tubuh mereka—menghapus peran dokter sebagai perantara kenikmatan yang dipaksakan atas nama pengobatan.
Jika kamu perempuan lajang, janda, atau memilih hidup spiritual, tanyakan ini pada dirimu: apakah tubuhmu benar-benar sakit, ataukah dunia yang belum sembuh dari prasangkanya? Jangan biarkan sejarah yang kelam terus menentukan definisi waras bagi tubuh dan hasratmu.
Peluk kembali dirimu, bukan karena kamu “kurang,” tapi karena kamu utuh meski berjalan sendiri.